KEHIDUPAN DI LINGKUNGAN EKSTREM

Posted on

Di bumi, lingkungan dingin lebih banyak dijumpai daripada lingkungan panas. Lautan mempunyai suhu rata-rata 1-3°C dan meliputi lebih setengah bola dunia. Antartika dan Arktika adalah dataran es yang beku. Suhu rata-rata bulan terpanas kurang dari 0°C dan pada bulan terdingin kurang dari -38°C, air yang ditemukan di bawah muka es pada suhu itu adalah air dingin. Mulai suhu -40°C semua air membeku. Lingkaran Antartika dan lingkaran Arktika yang berada pada lintang 65°C adalah batas tepi kutub Selatan dan kutub Utara. Lingkungan dengan suhu di bawah sekitar 3°C digolongkan sebagai lingkungan ekstrem dingin. Sebaliknya lingkungan panas dijumpai di sumber air panas, kawah gunung berapi yang aktif, bahkan di dasar laut yang berdekatan dengan lapisan magma bumi yang lebih dalam. Di atas suhu 60°C disebut lingkungan panas ekstrem, karena rata-rata manusia jarang dapat bertahan.

Mengejutkan sekali bahwa tempat yang oleh manusia dianggap ekstrem ternyata penuh dengan jasad-jasad hidup berupa mikroba-mikroba yang digolongkan sebagai Extremophilae. Mikroba-mikroba itu hidup dengan baik, bahkan memerlukan habitat semacam itu untuk dapat berkembang biak. Manusia tertarik pada golongan mikroba ini karena enzim mikroba tersebut tahan berfungsi dalam kondisi ekstrem. Enzim dari Extremophilae tersebut menjadi dasar pengetahuan baru penggunaan enzim. Extremozyme membantu menstabilkan rasa makanan dan obat. Kini telah ditemukan lebih dari 50 jenis Extremophilae di antaranya ada yang tahan sampai pada suhu 105°C.

Extremophilae yang menyukai lingkungan dingin adalah Polaromonas vacuolata. Di atas 12°C mikroba itu kepanasan dan berhenti berkembang biak. Enzim yang dihasilkan oleh mikroba itu dipakai untuk pengolahan makanan di suhu rendah, pembuatan aroma dan detergen untuk mencuci di air dingin.

Selain berada di lingkungan dingin dan panas ditemukan juga mikroba yang menyukai lingkungan berupa lingkungan yang amat asam (pH<5). Enzim yang dapat diisolasi dipakai untuk mengolah pakan ternak, sehingga butir  makanan dapat lebih mudah diterima oleh hewan ternak. Sebaliknya mikroba di lingkungan yang amat basa (pH>9) memiliki kegunaan untuk pembuatan detergen pembersih lemak atau noda lemak makanan, melembutkan bahan selulosa pembuat kain jeans.

Retna Kusuma Astuti
Hello,,,I am a woman who like writing and cooking. i am a mother and a wife from beloved ones in my life. for elongate my passion, i write this learning material for you all. Happy Learning!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *